Jakarta: Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi menaikkan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada Jumat. Keputusan tersebut diambil setelah hasil pemantauan menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa peningkatan status didasarkan pada hasil pengamatan visual maupun instrumental dalam beberapa waktu terakhir.
“Peningkatan aktivitas ini menunjukkan adanya suplai magma ke permukaan, sehingga masyarakat dan wisatawan diminta tidak mendekati kawah aktif dalam radius yang telah direkomendasikan,” ujar Lana dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.
Menurut Badan Geologi, data pemantauan menunjukkan peningkatan jumlah gempa vulkanik, perubahan deformasi tubuh gunung, serta aktivitas permukaan yang mengindikasikan adanya pergerakan magma menuju bagian dangkal.
Selain itu, hasil pemantauan menggunakan tiltmeter di sejumlah stasiun pengamatan juga memperlihatkan kecenderungan inflasi atau pengembangan tubuh gunung yang menandakan adanya akumulasi tekanan di bawah permukaan.
Seiring peningkatan status tersebut, Badan Geologi merekomendasikan masyarakat, nelayan, dan wisatawan untuk tidak beraktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah aktif guna menghindari potensi bahaya erupsi maupun lontaran material pijar.
Masyarakat yang berada di kawasan pesisir Selat Sunda juga diminta tetap tenang, namun meningkatkan kewaspadaan serta mengikuti arahan pemerintah daerah dan petugas pemantau gunung api.
Di sisi lain, pemerintah daerah bersama instansi terkait diminta memperkuat langkah mitigasi, meningkatkan koordinasi, dan menyiapkan langkah antisipasi apabila aktivitas vulkanik kembali meningkat.
Badan Geologi menegaskan pemantauan Gunung Anak Krakatau terus dilakukan selama 24 jam melalui jaringan seismik, deformasi, dan pengamatan visual untuk mendeteksi setiap perkembangan aktivitas vulkanik secara dini.






